إِذَا جَاءَ
رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ
وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka,
pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun
apakah kita sudah benar-benar mengenal Ramadhan? Bukankah tak kenal maka tak sayang? Cara sederhana untuk mengenal adalah
dengan mengetahui makna dari nama “Ramadhan”, sehingga dengan mengetahuinya kita
tidak akan begitu saja mengabaikannya.
Mengapa dinamakan
Ramadhan? Ramadhan diambil dari kata “Ar-Ramdu” yang berarti batu yang panas
karena terkena terik matahari. Ramadhan juga
dapat diambil dari kata “Ar-Ramiidh” yang memiliki makna sebagai hujan atau awan yang turun selepas musim panas dan sebagai penanda masuknya musim gugur,
sehingga hilanglah dan luntur semua panas yang ada selama ini.
Ibnu
Katsir di dalam Tafsir-nya (4/128-129) menyampaikan bahwa kata Ramadhan diambil dari kata
Ar-Ramdha’ karena kondisi yang sangat panas. Ar Ramdha’ artinya
panas, seperti dalam kalimat “Ramidhat Al Fishaal” (anak-anak unta itu kepanasan
jika sedang haus).
Terlepas dari perbedaan asal kata Ramadhan, salah satu makna yang
menonjol adalah gugur dan luntur. Maksudnya, gugur dan lunturnya
dosa-dosa yang ada di bulan Ramadhan.
Dinamakan Ramadhan –kata Al
Qurthubi dalam Tafsir-nya (2/291)— karena ia menggugurkan atau membakar
dosa-dosa dengan amal shalih. Hal ini senada dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa di bulan
Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya
yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu banyak dalil yang menyebutkan
keutamaan Ramadhan membuktikan namanya sesuai dengan maknanya, menghapuskan dan
menggugurkan dosa yang ada. Tentu terhapusnya dosa bukan dengan otomatis,
melainkan dengan banyaknya amal shalih yang dikerjakan di dalamnya, baik berupa
puasa, shalat malam, membaca Al-Qur’an, zakat, sedekah, dan setiap perbuatan
baik lainnya.
Tak heran mengingat banyaknya kemudahan
dalam mengerjakan amal shalih sebagai sarana untuk mendapatkan ampunan Allah,
maka ada ulama salaf yang memberikan sanihat sebagai sebuah peringatan, “Barangsiapa yang tidak
diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan, maka tidak akan diampuni dosa-dosanya
di bulan-bulan lainnya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 297).
Peringatan
tersebut sebagai perwujudan dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ –
دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad, dishahihkan al-Hakim, Adz-Dzahabi dan Al-Albani).
Ketika Allah memudahkan berbagai ketaatan di bulan Ramadhan dengan balasan berupa diampuni dosa-dosa kita, dilipatkan pahala kebaikan kita, maka akankah kita biarkan Ramadhan datang dan pergi begitu saja? Semoga Allah memudahkan kita beramal shalih di awal Ramadhan, memberikan keistiqomahan di tengah Ramadhan, serta menolong kita untuk meningkatkan ketaatan di akhir Ramadhan, sehingga kita layak mendapatkan pahala dan ampunan-Nya. Aamiin.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar