Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MENGENAL MAKNA RAMADHAN

Jumat, 20 Februari 2026 | Februari 20, 2026 WIB Last Updated 2026-02-20T15:45:02Z

           Salah satu di antara kenikmatan setiap muslim adalah diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan. Bulan yang begitu spesial, sangat istimewa, karena kehadirannya dipenuhi kebaikan dan keberkahan. Hadits ini mewakili betapa istimewanya bulan Ramadhan,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun apakah kita sudah benar-benar mengenal Ramadhan? Bukankah tak kenal maka tak sayang? Cara sederhana untuk mengenal adalah dengan mengetahui makna dari nama “Ramadhan”, sehingga dengan mengetahuinya kita tidak akan begitu saja mengabaikannya.

Mengapa dinamakan Ramadhan? Ramadhan diambil dari kata Ar-Ramdu yang berarti batu yang panas karena terkena terik matahari. Ramadhan juga dapat diambil dari kata Ar-Ramiidh yang memiliki makna sebagai hujan atau awan yang turun selepas musim panas dan sebagai penanda masuknya musim gugur, sehingga hilanglah dan luntur semua panas yang ada selama ini.

Ibnu Katsir di dalam Tafsir-nya (4/128-129) menyampaikan bahwa kata Ramadhan diambil dari kata Ar-Ramdha’ karena kondisi yang sangat panas. Ar Ramdha’ artinya panas, seperti dalam kalimat “Ramidhat Al Fishaal(anak-anak unta itu kepanasan jika sedang haus).

Terlepas dari perbedaan asal kata Ramadhan, salah satu makna yang menonjol adalah gugur dan luntur. Maksudnya, gugur dan lunturnya dosa-dosa yang ada di bulan Ramadhan.

Dinamakan Ramadhan –kata Al Qurthubi dalam Tafsir-nya (2/291)— karena ia menggugurkan atau membakar dosa-dosa dengan amal shalih. Hal ini senada dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu banyak dalil yang menyebutkan keutamaan Ramadhan membuktikan namanya sesuai dengan maknanya, menghapuskan dan menggugurkan dosa yang ada. Tentu terhapusnya dosa bukan dengan otomatis, melainkan dengan banyaknya amal shalih yang dikerjakan di dalamnya, baik berupa puasa, shalat malam, membaca Al-Qur’an, zakat, sedekah, dan setiap perbuatan baik lainnya.

Tak heran mengingat banyaknya kemudahan dalam mengerjakan amal shalih sebagai sarana untuk mendapatkan ampunan Allah, maka ada ulama salaf yang memberikan sanihat sebagai sebuah peringatan, “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan, maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 297).

Peringatan tersebut sebagai perwujudan dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad, dishahihkan al-Hakim, Adz-Dzahabi dan Al-Albani).

Ketika Allah memudahkan berbagai ketaatan di bulan Ramadhan dengan balasan berupa diampuni dosa-dosa kita, dilipatkan pahala kebaikan kita, maka akankah kita biarkan Ramadhan datang dan pergi begitu saja? Semoga Allah memudahkan kita beramal shalih di awal Ramadhan, memberikan keistiqomahan di tengah Ramadhan, serta menolong kita untuk meningkatkan ketaatan di akhir Ramadhan, sehingga kita layak mendapatkan pahala dan ampunan-Nya. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update